Pulang ke jogja dua minggu yang lalu. Begitu keluar dari KA Sancaka (kebetulan dapat gerbong yang ber-AC), saya langsung kaget. Panas. Ya, kenapa Jogja sepanas ini? Salah seorang teman mengatakan bahwa itu paling disebabkan karena saya terlalu lama duduk di gerbong ber-ac sehingga kaget saat keluar dan terpapar langsung matahari. Saat itu saya hanya mengiyakan saja.
Namun setelah beberapa hari di Jogja saya kembali ke kesimpulan awal bahwa Jogja terasa lebih panas dari sebelumnya. Kegiatan putar-putar kota menggunakan sepeda motor di jalanan kota budaya ini di siang hari terasa kurang menyenangkan, terpaksa harus berbelok ke salah satu mall sekedar untuk mendinginkan badan. Malam hari di jogja, yang biasanya saya tidur menggunakan selimut, kini tidak lagi. Bahkan jendela ingin saya buka, namun urung saya lakukan karena takut nyamuk-nyamuk nakal berebutan dan berdesakan masuk seperti penonton saat pintu konser Slank dibuka. Begitu juga saat bepergian ke obyek wisata Kaliurang. Seperti kebiasaan saya saat mengunjungi Kaliurang pada kesempatan-kesempatan sebelumnya,
saya kenakan sepatu, kaos kaki, dan jaket. Apa yang terjadi? Di obyek wisata yang dikenal dengan kesejukannya itu saya harus melepaskan jaket karena kegerahan, sumuk orang jawa bilang.
Read the rest of this entry ?