pernahkah kau menyayat dagingmu dengan sembilu
dan menaburkan garam di atasnya?
karena hatiku lebih sakit dari itu…
gresik, 5 Desember 2009

pernahkah kau menyayat dagingmu dengan sembilu
dan menaburkan garam di atasnya?
karena hatiku lebih sakit dari itu…
gresik, 5 Desember 2009

ingin kubelah dadaku
lalu kucari hatiku
seperti apa dia?
namun di dadaku hanya kutemukan jantung
merah warnanya
di sana pula kutemukan hati
merah warnanya
tapi bukan hati itu yang kucari
hati yang kucari
tempat bersemayam nurani
nurani yang kucari
sudah lama kami tak bertegur sapa
dimanakah dia?
ingin kubelah dadaku
lalu kucari hatiku
seperti apa dia?
masih merahkah ia?
Gresik, 12 Oktober 2009

di negeri bintang-bintang tersebutlah puteri
puteri bersayap
dari untaian nasib
di negeri manusia puteri itu jatuh
berlumpur sebelah sayapnya
tak ada kuasanya pulang ke bintang
puteri bersayap lumpur
memeluk separuh hati yang tak berduri
berharap bisa menunggangginya tuk pulang ke bintang
di negeri manusia tersebutlah pujangga
pujangga yang bersahabat dengan bulan
berkelana mencari hatinya yang hilang
pujangga tahu itu separuh hatinya
yang kini tak lagi berduri
namun berlumpur terkena sayap sang puteri
sang pujangga ingat dia pernah berpuisi
“satu yang pasti, mawar pun tak sudi mekar tanpa ditemani duri-duri…”
lalu ia berjalan lagi
meninggalkan putri dengan hati
lalu mencari Tuhannya
untuk kembali kepada putri
Gresik, 12 Oktober 2009

aku pulang ke negeri ibu
di sana kucari bulan
bulan..dimana kau bulan?
aku bertanya kepada bulan
tentang hatiku yang kutitipkan
apakah durinya telah menghilang
bulan datang ke negeri aku
di sana dicarinya aku
aku…dimana kau aku?
bulan berkata kepada aku
tentang hatiku yang kutitipkan
bahwa hatiku telah menghilang
katanya
carilah seorang puteri
di negeri tempat dewa-dewi
di sana kan kau temukan itu hati
tanpa duri

dari negeri ibu bulan mengunjungiku
meminjam kata pujangga sebagai rakitnya
meminjam langit jingga sebagai layarnya
disandarkannya rakit itu di ujung dermaga
tempat penyair tua memancing usia
agar tak mati ia di kala senja tiba
katanya,
“Hatimu masih kubawa,
masih berduri di sana,
bahkan beracun rasanya.
Di suatu negeri akan kukembalikan
saat kau berteman dengan kehidupan.”
Gresik, 5 Mei 2009

ke negeri ibu
ku bertemu puteri
katanya,
“lihat, bulan merah!”
kugerayangi langit malam
kucari bulan
tak kutemukan di sana
kutanya pada bintang gemintang
pula tak tahu mereka
ingin kutanyakan pada bulan
separuh hatiku yang dulu kutitipkan
separuh hatiku yang tumbuh berduri
sudah hilangkah durinya?
atau sudah matikah hatinya?
di negeri ibu bulan kutemui
di negeri ibu kutemui puteri
di negeri ibu kubermimpi lagi
Gresik, 13 April 2009

tangan itu pun bersentuhan
sebentar saja
tak sampai dua masa kalanya
namun serasa bertahun cahaya
sekian peristiwa
hanya itu terekam indera
sekian suara
tak kudengar satupun jua
duniaku melambat
bahkan berhenti begitu saja
ku di sudut sana
coba tahan nafasku
coba hentikan detak jantungku
coba hilangkan keberadaanku
hanya karena dirimu
tak mau dia tahu

tangan itu pun bersentuhan
sebentar saja
namun membuka luka lama
atau membuat luka baru
atas luka lama?
dari kala itu aku terdiam
tersadar dari harapan
terbangun dari impian
tanganku pun tak layak sentuh tangannya
dan biarkanlah tangan itu bersentuhan
tak hanya sebentar saja
Gresik, 14 Januari 2009

selembar tisu
sekilas senyummu
selembar tisu
setetes air mataku
sekilas senyummu
setetes air mataku
habis air mataku
habis sekotak tisu
jangan habis senyummu
Gresik, 7 Januari 2009

Pagi ini langit terlihat cerah.
Biru, tidak panas, semburat putih awan tipis disana-sini,
dihiasi tiga garis awan yang dibuat pesawat latih angkatan udara.
Pedagang sayur keliling mulai menggelar dagangannya,
ibu-ibu dan prt mulai berkerumun,
berebut sayur dengan sopan.
Read the rest of this entry ?

dalam setiap mata
kulihat matamu
dalam setiap senyum
kulihat senyummu
dalam setiap mimpiku
hanya kulihat dirimu
Gresik, 19 November 2008