h1

Global Warming

Oktober 9, 2008

Pulang ke jogja dua minggu yang lalu. Begitu keluar dari KA Sancaka (kebetulan dapat gerbong yang ber-AC), saya langsung kaget. Panas. Ya, kenapa Jogja sepanas ini? Salah seorang teman mengatakan bahwa itu paling disebabkan karena saya terlalu lama duduk di gerbong ber-ac sehingga kaget saat keluar dan terpapar langsung matahari. Saat itu saya hanya mengiyakan saja.

Namun setelah beberapa hari di Jogja saya kembali ke kesimpulan awal bahwa Jogja terasa lebih panas dari sebelumnya. Kegiatan putar-putar kota menggunakan sepeda motor di jalanan kota budaya ini di siang hari terasa kurang menyenangkan, terpaksa harus berbelok ke salah satu mall sekedar untuk mendinginkan badan. Malam hari di jogja, yang biasanya saya tidur menggunakan selimut, kini tidak lagi. Bahkan jendela ingin saya buka, namun urung saya lakukan karena takut nyamuk-nyamuk nakal berebutan dan berdesakan masuk seperti penonton saat pintu konser Slank dibuka. Begitu juga saat bepergian ke obyek wisata Kaliurang. Seperti kebiasaan saya saat mengunjungi Kaliurang pada kesempatan-kesempatan sebelumnya,
saya kenakan sepatu, kaos kaki, dan jaket. Apa yang terjadi? Di obyek wisata yang dikenal dengan kesejukannya itu saya harus melepaskan jaket karena kegerahan, sumuk orang jawa bilang.

Ada juga teman yang mengajak bepergian ke pantai. Dengan berat hati saya tolak karena membayangkan panasnya hawa pantai. Kaliurang saja sudah semakin panas, bagaimana di pantai? Liburan lebaran di Jogja saya habiskan dengan mengeluh…”Jogja panas…”

Libur berlalu…saatnya kembali ke rutinitas…

Tadi pagi untuk kesekian kalinya saya melihat film dokumenter “An Inconvenient Truth” yang dibintangi mantan senator dan wapres AS Al Gore. Seakan saya dibangunkan dan diingatkan kembali tentang kondisi bumi kita yang kian panas.

Global Warming. Ya..global warming yang diartikan pemanasan global oleh kita (walaupun seharusnya diartikan penghangatan global). Kondisi bumi yang semakin panas karena panas sinar matahari terperangkap di bumi sebagai akibat dari meningkatnya kadar CO2 di udara (efek rumah kaca). Begitulah kira-kira saya menangkap pengertian Global Warming.

Meningkatnya kadar CO2 itu sendiri diakibatkan meningkatkan konsumsi fossil fuel. Fossil fuel adalah bahan bakar yang berasal dari fosil tumbuhan atau hewan. Yang termasuk fossil fuel antara lain minyak bumi dan batu bara. Selain itu berkurangnya jumlah hutan di bumi juga turut berperan dalam peningkatan kadar CO2 karena hutan berperan dalam mengubah CO2 menjadi O2.

Banyak dampak buruk akibat pemanasan global ini. Dampak yang terjadi merupakan sebuah efekdomino.

Karena kadar CO2 meningkat panas matahari terperangkap di bumi, mengakibatkan suhu udara semakin meningkat. Karena panas, suhu air laut menjadi lebih hangat. Hal ini menyebabkan biota laut mati. Suhu air laut yang meningkat membuat es di kedua kutub mencair. Es abadi yang ada di puncak-puncak gunung juga mencair. Pencairan es ini membuat ketinggian air laut meningkat, alias kita semakin tenggelam.

Panasnya suhu juga membuat tingkat penguapan tinggi. Tidak hanya di laut tetapi juga di darat. Maka terjadilah kekeringan. Kadar uap air yang tinggi di atmosfer meningkatkan potensi terjadinya badai. Saat badai melewati perairan yang hangat tadi ia akan semakin membesar. Singkatnya akan terjadi badai yang lebih besar dan lebih sering terjadi.

Pohon-pohon akan mati karena panas dan kekeringan. Dengan demikian bumi semakin tidak mampu mengubah CO2 menjadi O2. Global warming akan menjadi-jadi. Jadilah Global Hotting!!!

Apa yang akan kita lakukan? Tanyalah pada diri anda sendiri!

5 komentar

  1. Hanya satu kata, ‘mengerikan’


  2. yak benar mas…makanya kita hrs berbuat sesuatu meski kecil.


  3. ya… kebetulan juga, mas Pandu datang ke Jogja saat musim ‘begini’. Musim Hujan selalu membuat Jogja lebih panas. Sebelum hujan turun, pasti rasanya gerahhh sekali. Penjelasan ilmiahnya, saya kurang tahu.

    Saya bisa mengiyakan, kalau Mas Pandu bilang Jogja (makin) panas. Tapi ada unsur kebetulan juga, karena belakangan ini Jogja makin terasa panas karena sudah masuk ke musim penghujan. Waktu saya KKN, Jogja adem lo… Berarti itu bulan, Agustusan…. Jadi, Jogja panas juga tergantung musim🙂

    Tapi saya tidak menyangkal bahwa memang sedang terjadi global warming. Pak Walikota Yogyakarta, ringroad ditanami pohon perindang dong, biar rindang kaya daerah sekitar Senayan, Jakarta. Pohonnya kan gede-gede tuh🙂 (Pak Walikota emangnya suka maen ke blog ini ya? kok aku pesennya di sini. hehehehe)


  4. @aureliaclaresta
    setuju tuh…mari kita bikin kota-kota kita rindang.


  5. […] Global Warming Posting ini adalah repost dari Global Warming, berhubung cukup banyak yang googling ke sini untuk mencari pengertian Global […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: